{"id":47,"date":"2022-12-12T07:54:55","date_gmt":"2022-12-12T07:54:55","guid":{"rendered":"http:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/?p=47"},"modified":"2023-02-13T04:05:54","modified_gmt":"2023-02-13T04:05:54","slug":"perempuan-yang-diwariskan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/2022\/12\/12\/perempuan-yang-diwariskan\/","title":{"rendered":"Perempuan yang Diwariskan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Oleh: Lailatul Fithriyah Azzakiyah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di kota Yatsrib, hiduplah seorang putri semata wayang, parasnya cantik, wajahnya berseri selalu menyungging senyum, pipinya lebar, matanya indah. Dia terlahir dari suku Khazraj yang terkenal kemuliaan dan keagungannya. Putri tersebut bernama Kabisyah. Ayahnya adalah seorang kesatria tangguh. penunggang kuda yang mahir mengatur strategi perang, Ma\u2019an bin \u2018Ashim.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehidupan Kabisyah binti Ma\u2019an berlimpah kebahagiaan saat masih remaja. Kecantikan fisik dan keindahan budinya telah memikat banyak lelaki Yatsrib. Namun,&nbsp; kebahagiaan ini tak berlangsung lama.&nbsp; Kisah bahagia berbalik setelah kehilangan ayah saat ia masih belia. Tak lama kemudian disusul ibunya. Saat itulah penjagaan beralih kepada saudara laki-lakinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski banyak pemuda terpikat untuk meminangnya, saudara-saudara Kabisyah tak sembarang menerimanya. Masih terlalu dini dan belum cakap mengurus rumah tangga adalah salah satu alasan untuk menolaknya. Hingga datanglah pinangan seorang lelaki bernama Abu Qais bin Al-Aslat. Menikahlah Kabisyah dengan Abu Qais.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabisyah binti Ma\u2019an hidup bersama suaminya, Abu Qais bin Al-Aslat. Abu Qais adalah seorang pengembara yang kerap melakukan perjalanan jauh. Sebagaimana lazimnya hidup berumah tangga, roda kehidupan Kabisyah dan Abu Qais berputar dan pasang surut. Terkadang bahagia, tak jarang juga menemui derita dan nestapa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabisyah sebenarnya bukanlah istri Abu Qais yang pertama. Sebelum menikahi Kabisyah, Abu Qais sudah beberapa kali menikah, tetapi tidak dikaruniai anak. Ia hanya memiliki anak dari istri pertamanya yang sudah meninggal. Setelah Abu Qais menikah lagi, anak ini dalam pengasuhan keluarga istri pertamanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Abu Qais adalah orang baik dan berhati mulia. Karena itu Kabisyah sangat menginginkan kelahiran anak dari benih suaminya ini. Dengan harapan <em>gen<\/em> baik yang dimiliki sang bapak akan menurun pada anaknya. Namun, takdir baik belum berpihak pada mereka. Penantian panjang sepasang suami istri untuk memiliki keturunan tidak kunjung berhasil. Karena Kabisyah tak kunjung melahirkan, Abu Qais terpikir untuk mengasuh anak dari istri pertamanya agar tinggal bersama Kabisyah. Oleh keluarga istri pertamanya, sebenarnya anak ini ditahan dan Abu Qais dihalangi untuk mengasuhnya. Sebagai seorang bapak yang memiliki darah daging anak tersebut, Abu Qais tentu sedih bukan kepalang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah melalui musyawarah dan perundingan yang alot, akhirnya direlakan anak itu untuk tinggal bersama bapaknya, dengan syarat Kabisyah sebagai ibu tiri akan merawat sang anak &nbsp; dengan penuh kasih sayang, sebagaimana layaknya anak kandung sendiri. Karena telah lama merindukan hadirnya buah hati, Kabisyah berjanji akan merawat anak itu dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sungguh bahagia hati Abu Qais dibuatnya. Perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh Kabisyah terhadap sang anak menjadikan Abu Qais semakin sayang pada istri terakhirnya. Saking perhatiannya Kabisyah pada anak tirinya, Kabisyah kerap mengajaknya ke pasar dan membelikan mainan.<strong> <\/strong>Anak Abu Qais juga merasa sangat nyaman tinggal bersama ibu tirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari bergulir, kisah pun berganti. Tidak lama setelah itu, Abu Qais jatuh sakit. Kabisyah merawat suaminya dengan kasih sayang dan penuh perhatian. Namun, siapa yang bisa menolak takdir. Pada akhirnya, Abu Qais meninggal. Sebelum meninggal, Abu Qais telah berwasiat kepada Kabisyah agar merawat anak itu dengan baik. Abu Qais juga meninggalkan harta warisan tidak sedikit. Cukuplah untuk menghidupi dirinya dan anaknya bertahun-tahun.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dilandasi tanggung jawab memenuhi wasiat suami, juga berbekal peninggalan harta pusaka suami, Kabisyah berjanji akan merawat anak ini hingga dewasa. Namun, kabar meninggalnya Abu Qais justru menimbulkan gejolak di hati keluarga besar Abu Qais untuk menguasai harta warisannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mendengar kabar bahwa Abu Qais meninggal, keluarga besar Abu Qais segera datang ke rumah Kabisyah. Mereka kemudian memasangkan kain di tubuh Kabisyah. Ritual memasangkan kain di tubuh perempuan yang telah meninggal suaminya,&nbsp; dalam&nbsp; tradisi Jahiliyah kala itu, memiliki makna bahwa istri si mayit tidak berhak memeroleh warisan dan tidak boleh meninggalkan rumah untuk menikah lagi.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak berhenti di situ. Putra Abu Qais, yang kemudian diketahui bernama Hashin, lantas mewarisi ayahnya dan menggauli ibu tirinya, tanpa menikahinya. Hashin bahkan meninggalkan Kabisyah dalam kondisi yang mengenaskan. Dia tidak memberi nafkah dan tidak memenuhi kebutuhan dasar Kabisyah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitu teganya keluarga Abu Qais dengan tradisi Jahiliyah. Di saat Kabisyah masih berkabung dengan kematian suaminya, belum kering air mata dan pusara suaminya, dia sudah mendapatkan perlakuan semena-mena dari keluarga besar mendiang suaminya.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabisyah segera menemui Rasulullah Saw. dan mengadukan segala keluh kesah yang dia alami. Ia merasa diperlakukan zalim oleh keluarga suaminya. Tak lama sesudahnya, turunlah ayat dalam QS. an-Nisa\u2019[4]: 19.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right wp-block-paragraph\">\u064a\u064e\u0670\u0653\u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 \u0671\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0621\u064e\u0627\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062d\u0650\u0644\u064f\u0651 \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u06e1 \u0623\u064e\u0646 \u062a\u064e\u0631\u0650\u062b\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0671\u0644\u0646\u0650\u0651\u0633\u064e\u0622\u0621\u064e \u0643\u064e\u0631\u06e1\u0647\u0657\u0627\u06d6 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0639\u06e1\u0636\u064f\u0644\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u064e\u0651 \u0644\u0650\u062a\u064e\u0630\u06e1\u0647\u064e\u0628\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0628\u0650\u0628\u064e\u0639\u06e1\u0636\u0650 \u0645\u064e\u0622 \u0621\u064e\u0627\u062a\u064e\u064a\u06e1\u062a\u064f\u0645\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u064e\u0651 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0651\u0622 \u0623\u064e\u0646 \u064a\u064e\u0623\u06e1\u062a\u0650\u064a\u0646\u064e \u0628\u0650\u0641\u064e\u0670\u062d\u0650\u0634\u064e\u0629\u0656 \u0645\u064f\u0651\u0628\u064e\u064a\u0650\u0651\u0646\u064e\u0629\u0656\u06da \u0648\u064e\u0639\u064e\u0627\u0634\u0650\u0631\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u064e\u0651 \u0628\u0650\u0671\u0644\u06e1\u0645\u064e\u0639\u06e1\u0631\u064f\u0648\u0641\u0650\u06da \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646 \u0643\u064e\u0631\u0650\u0647\u06e1\u062a\u064f\u0645\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u064e\u0651 \u0641\u064e\u0639\u064e\u0633\u064e\u0649\u0670\u0653 \u0623\u064e\u0646 \u062a\u064e\u0643\u06e1\u0631\u064e\u0647\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0634\u064e\u064a\u06e1\u200d\u0654\u0657\u0627 \u0648\u064e\u064a\u064e\u062c\u06e1\u0639\u064e\u0644\u064e \u0671\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u062e\u064e\u064a\u06e1\u0631\u0657\u0627 \u0643\u064e\u062b\u0650\u064a\u0631\u0657\u0627 \u0661\u0669&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cHai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kisah Kabisyah binti Ma\u2019an ini adalah potret kehidupan<strong> s<\/strong>ebelum datang Islam.&nbsp; Kehidupan di masa Jahiliyah sangat merendahkan perempuan. Perempuan diibaratkan seperti barang. Bisa diperjualbelikan, diwarisi dan diwariskan. Perempuan juga diibaratkan seperti pakaian yang bisa dipindahtangankan. Jika seorang istri ditinggal mati oleh suaminya, maka wali dari suaminya yang meninggal itu lebih berhak atas perempuan tersebut ketimbang keluarga istri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut sebagian adat Arab Jahiliyah apabila seseorang meninggal dunia, maka anak tertua atau anggota keluarganya akan mewarisi janda itu. Janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan menikah lagi. Islam datang untuk menghapus tradisi tersebut. Islam sangat menghormati perempuan dan mengangkat derajat dari tradisi Jahiliyah yang sangat merendahkan martabat perempuan. Di antara sisi perempuan yang terangkat derajatnya setelah Islam datang adalah perempuan yang suaminya meninggal diperbolekan menikah lagi dengan laki-laki lain dengan menetapkan masa<em>\u2018iddah<\/em>. Ayat ini menjadi aturan, bahwa mewariskan wanita dengan jalan paksa tidak dibolehkan.&nbsp; Dengan demikian, tergantilah adat Jahiliyah dengan aturan Islam.[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Lailatul Fithriyah Azzakiyah Di kota Yatsrib, hiduplah seorang putri semata wayang, parasnya cantik, wajahnya berseri selalu menyungging senyum, pipinya lebar, matanya indah. Dia terlahir<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":48,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-47","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","two-columns"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":72,"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47\/revisions\/72"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/keluargaislami.swararahima.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}