Salatnya Perempuan Haid

Salatnya Perempuan Haid

Oleh: Nurun Sariyah
Haid adalah مانع atau penghalang untuk melakukan beberapa ibadah, salah satunya salat. Tak sedikit muslimah yang risau saat masa menstruasinya datang, karena ia merasa kehilangan momen ibadah salat yang sudah menjadi ibadah rutin. Padahal haid bukanlah kekurangan seorang perempuan dalam beribadah. Tak perlu merasa haid menjauhkan perempuan dari Tuhan. Toh, haid juga Tuhan yang mendesain. Untuk menghilangkan bahwa haid menjauhkan perempuan dari Tuhan ini, ada satu hal menarik yang ingin kusampaikan.

Berbicara tentang مانع, haid menjadi penghalang bagi perempuan untuk melaksanakan ibadah salat. Saat itu salat yang tadinya wajib, menjadi haram dikerjakan. Haram adalah sesuatu jika seseorang meninggalkannya dengan tujuan melaksanakan perintah, ia akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika ia mengerjakannya, ia akan mendapatkan sanksi.

ما يثاب على تركه امتثالاً ويعاقب على فعله

Jika diperhatikan dengan cermat, kita sering lengah melihat pahala yang dikandung oleh keharaman sebagaimana dalam kemakruhan. Kita hanya aware pada dosa yang dikandung oleh keharaman. Sering kita mendengar kalimat berikut ini, “Jangan dikerjakan, nanti dosa!

Selain mendengarnya, kalimat tersebut juga tanpa sadar sering kali kita lontarkan. Jarang, bahkan mungkin tidak pernah kita mendengar dan mengatakan, “Jangan dikerjakan, biar dapat pahala!

Padahal, sejak di bangku madrasah kita sudah hafal bahwa keharaman itu jika dikerjakan mendapat dosa, dan jika ditinggalkan mendapat pahala. Lalu, kapan seorang mukallaf mendapatkan pahala keharaman ini?

Setidaknya, untuk mendapatkan pahala keharaman (termasuk kemakruhan) ada 2 hal yang harus dipenuhi:

  1. Adanya kesempatan.

Saat peluang melakukan keharaman sudah di depan mata, saat itulah pertanda datangnya kesempatan. Ini merupakan implikasi dari konsep keharaman berupa thalabul kaff yang berarti menuntut sikap menahan diri. Konsekuensi dari thalabul kaff adalah dibutuhkannya sesuatu untuk ditahan oleh seseorang supaya ia bisa disebut melakukan “menahan diri darinya (sesuatu tersebut)”. 

Jadi, untuk mendapatkan pahala keharaman salat dalam masa haid juga dibutuhkan adanya kesempatan melakukan keharaman salat bagi perempuan haid tersebut. Kesempatan untuk melakukan salat dimulai ketika masuknya waktu salat yang ditandai dengan azan. Dengan demikian, masuknya waktu salat merupakan pertanda datangnya kesempatan bagi perempuan yang sedang haid untuk mendapatkan pahala keharaman salat.

  1. Berniat menaati Allah.

Selayaknya sebuah perintah, terkadang ia berupa tuntutan untuk melaksanakan sesuatu atau menjauhinya. Melaksanakan salat adalah perintah dan menjauhi salat juga sebuah perintah yang dikhususkan kepada orang-orang tertentu, antara lain perempuan haid. Dan untuk mendapatkan pahala ketaatan ini, diperlukan niat menaati perintah Tuhan. Baik perintah berupa melaksanakan sesuatu maupun menjauhinya.

Kalimat إمتثالا dalam ta’rif (definisi) di atas merupakan indikator untuk mendapatkan tsawab (pahala) yang dijanjikan. Setiap pekerjaan bergantung pada niat pelakunya. Oleh karena itu, seseorang yang tidak melakukan keharaman karena malu dilihat orang lain, maka ia tak mendapatkan pahala keharaman tersebut. Ia baru bisa mendapatkannya jika ia berniat menghindari perbuatan tersebut karena Allah yang melarangnya. Dalam kasus haid, seorang perempuan akan mendapatkan pahala menjauhi salat dengan berniat meninggalkannya karena menaati larangan Allah.

Sahabat pembaca Swara-RAHIMA, ketentuan ibadah, pahala, dosa, kewajiban, keharaman, dan sebagainya merupakan desain Allah swt yang telah dikonsep sedemikian rupa oleh para ulama. Manusia sebagai hamba Allah swt hanya beribadah dengan cara yang berbeda-beda mengikuti konsep tersebut. Saat suci, perempuan menaati Tuhan dengan melaksanakan ibadah salat. Dan saat haid, ia menaati perintah Tuhan dengan tidak mengerjakan salat. Sama saja, tinggal patuhi aturan main Tuhan.

Sejatinya, tujuan ibadah bukanlah menggapai pahala dan menghindari dosa, melainkan menghambakan diri dengan beribadah saja mengikuti titah Tuhan. Jadi, mari berhenti merisaukan jarak antara kita dan Tuhan saat haid. Tak ada yang perlu dirisaukan atas apa pun yang ditakdirkan kepada perempuan (haid, mengandung, melahirkan, dst) selain patut disyukuri dan dibanggakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *