Pengasuhan Kolektif Hadapi Bonus Demografi

Pengasuhan Kolektif Hadapi Bonus Demografi

Oleh: Nia Ramdaniati

Bonus Demografi Tantangan dan Harapan

Hasil reproduksi jangka panjang yang melahirkan keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh jumlah penduduk merupakan gambaran bonus demografi menurut Wongboonsin (2003). Jimmy Ginting (2016) menggambarkan  fenomena bonus demografi merupakan sebuah ledakan penduduk usia produktif yang kemungkinan akan terjadi di Indonesia pada tahun 2020 hingga 2030.

Bonus demografi bagi sebuah negara bagaikan dua sisi mata uang. Satu sisi negara akan selangkah lebih maju karena berpotensi meningkatkan sumber daya manusia di berbagai sektor. Sementara di sisi lain merupakan bencana karena lonjakan penduduk tidak berimbang dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia dibarengi dengan adanya bonus demografi merupakan kekuatan yang luar biasa besar. Bayangkan saja satu pemuda penggerak bisa menggerakan satu kelompok masyarakat dan jika dilakukan semua pemuda dengan angka yang banyak maka negara menjadi lebih maju.

Di balik mimpi besar bayangan tantangan bonus demografi yang menguntungkan negara, terdapat ancaman yang harus diwaspadai. Jika hari ini pendidikan tidak memposisikan generasi mendatang sebagai manusia seutuhnya, manusia yang bertugas sebagai khalifah fil ard, maka dengan kuantitas yang banyak generasi mendatang akan menjadi beban negara.

Pengasuhan Positif Harus Kolektif

Sebelum proses pengasuhan yang bersifat kolektif, kita perlu memahami pengasuhan positif sebagai modal dalam proses membersamai anak. Pengasuhan positif adalah proses membersamai anak yang ditandai dengan sikap penuh kasih sayang sebagai modal dalam hubungan dan proses komunikasi.

Setiap anak terlahir dengan miliaran sel otak yang siap menyambung antar-sel. Sambungan sel otak akan sempurna ketika ada stimulasi yang baik dari lingkungan. Stimulasi yang didapatkan anak berasal dari penerimaan dan kasih sayang. Semakin besar kasih sayang yang didapatkan anak semakin kuat dan besar stimulasi perkembangan anak.

Melatih pengasuhan postif dengan cara mewujudkan nuansa positif, kalimat positif, dan pembiasaan positif sehingga terbangun karakter pada anak adalah harapan. Harapan ini akan terwujud saat dilakukan kedua belah pihak baik oleh ayah maupun ibunya. 

Ayah dan ibu harus memiliki persepsi yang sama. Anak akan kebingungan kalau ayah dan ibunya berbeda dalam menanamkan nilai. Salah satu contoh misalnya dalam kedisiplinan waktu. Kalau Ibu disiplin sementara ayahnya tidak, maka anak saat malas akan menggunakan dalih, bahwa ayah juga tidak disiplin. Anak menjadi bingung menyimpulkan sebuah nilai apabila Ayah dan Ibu memiliki persepsi yang berbeda.

Nilai karaker akan tertanam dengan baik dengan keteladanan yang dipelajari dan dilihat anak sepanjang waktu dari orang dewasa di sekitarnya. Anak kecil akan terbiasa melakukan kegiatan ibadah kalau orangtuanya rajin beribadah. Anak akan berkata jujur apabila orangtuanya selalu berkata jujur. Anak akan bersikap ramah karena lingkungan telah memperlakukannya dengan ramah.

Pengasuhan positif melahirkan kebaikan bagi tumbuh kembang anak. Namun, pengasuhan positif tidak cukup dilakukan oleh orangtua inti saja (ayah dan ibu). Pengasuhan positif harus diakukan oleh semua orang yang ada di sekitar anak-anak. Banyak anak yang ahirnya mengalami trauma karena bertemu orang dewasa yang melakukan kekerasan terhadapnya. Situasi ini menunjukkan tidak adanya kolektifitas dalam pengasuhan.

Peran Lingkungan untuk Kebaikan

Keluarga yang baik dapat dilihat dari anggota keluarga yang shalih dan shalihah. Keluarga yang baik menularkan kebaikan untuk tetangga dan orang di sekitarnya sehingga tercipta lingkungan yang baik. Mendidik, mengasuh, dan membina anak di lingkungan tempat tinggal merupakan wujud menjaga lingkungan. Apabila menemukan seorang anak yang berkata kasar atau berperilaku menyimpang, orang dewasa di lingkungan jangan menyalahkan. Nasihati dengan baik dengan strategi yang membuat anak tersebut tidak tersinggung tetapi tergerak untuk berubah.

Menjaga lingkungan berarti menjaga anak kita juga. Sebagai orangtua harus memberikan contoh yang baik pada lingkungan, kelak akan menjadi teladan bagi anak sendiri. Sebaliknya, harus malu melakukan perbuatan yang melanggar norma, karena selain diikuti oleh anak sendiri juga akan diikuti oleh anak-anak di lingkungan sekitarnya.

Saling menjaga anak-anak di lingkungan juga perlu dikomunikasikan dengan orangtua di sekitar. Perlu adanya jalinan komunikasi yang baik sehingga tidak menyinggung tetapi dapat membangun terwujudnya nuansa keteladanan kolektif dan menjadikan anak ikut jejak positif para orangtua di lingkungannya.

Proses pengasuhan yang dikawal oleh berbagai pihak sejak anak usia dini akan melahirkan dampak positif di masa yang akan datang. Generasi emas lahir dari proses yang telah menempatkan anak-anak sejak kecil berada pada lingkungan yang mendukung tahap tumbuh kembang optimal. Setiap pemangku kepentingan memperhatikan hak-hak anak kelak bonus demografi menjadi keberkahan bagi bangsa Indonesia.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *